:”’)
“Something ‘bout love that breaks your heart, it sets you free.”
Matiin semua gadget kalian, sign out dari semua social networking kalian… Bayangin gimana rasanya jadi tugas yang kalian tinggalin…
- dari faizal kahfi
(Source: fuckyeahmahasiswa)
Bermain Rindu
Aku rindu bermain rindu di pangkuan ibu dengan kawan yang selalu memanggilku si bocah rindu. Rindu selalu membuatku rindu tanpa berpikir panjang apakah aku pantas untuk merindu. Aku selalu menaruh rindu di atas pangkuan ibu sambil memandangnya dengan semangat. Namun, sekarang pangkuannya sudah renta tanpa tenaga yang bisa menahan rindu. Rindu bisa lepas begitu saja dari pangkuannya. Aku bisa saja mengambil kembali rindu yang jatuh tapi itu hanya pekerjaan yang sia-sia. Rindu boleh saja jatuh dan pantang untuk kembali ke pangkuan ibu. Rindu sudah kadaluarsa.
Pertama kali kudapat rindu dari seorang perempuan yang datangnya entah dari mana. Perempuan yang selalu tersenyum riang tanpa beban. Perempuan itu selalu menumpahkan racikan rindu yang keluar bersamaan dengan rayuan manis dari bibirnya. Racikan rindu mau tak mau kuserap dalam hati namun tidak untuk rayuan manisnya. Rayuan manisnya sudah out of date.
Rindu yang diberikannya tak hanya sesekali namun berkali-kali membuat diriku melambung tinggi ke atas atap istana sang dewa-dewi. Bila tak ada waktu untuk menemuinya kumainkan rindu di halaman bersama ibu. Ibu selalu menangkap rindu yang kulemparkan tepat hampir mengenai paras lusuhnya. Rindu yang diracik manis olehnya tidak bisa dimakan karena rindu hanya bisa kunikmati sendiri bukan untuk orang lain walaupun ibu sekalipun. Setelah bermain rindu dengan ibu kupandangi rindu dengan penuh rasa rindu.
Aku tidak mengetahui apakah rindu patut untuk dirindu atau hanya rindu itu sekedar omong kosong yang dapat dilemparkan dan dikembalikan kesana kemari lain waktu. Rasa rindu itu bermacam-macam sesuai kemauanku. Perempuan itu selalu memberiku rasa original rindu yang tidak dipadukan dengan yang lain dan aku sangat menyukai rasa rindu yang teramat rindu tanpa tambahan bumbu penyedap rindu sedikitpun. Kami memang klop. Saling memberi dan saling menerima rindu.
Oh iya. Apakah aku selalu membuatkan rindu untuk perempuan itu? Aku selalu membuatkan rindu yang kuracik sendiri. Racikan rindu ini kudapat dari ayahku. Ayah memang jagoan dalam racik-meracik rindu dan perempuan mana yang tidak pernah mendapatkan racikan rindu dari ayah. Mereka kebanyakan dapat dan tidak akan pernah lupa akan racikan khas ayah. Ayah menurunkan kemampuan meracik rindu padaku kemarin dan langsung kucoba pada perempuan itu.
Aku membuat racikan rindu yang terdiri dari kecupan selamat malam, tawa saat makan siang, dan petikan lagu rindu buatnya. Sampai kapan rindu akan menyelimuti benak dan sampai kapan rindu buatanku bakal kadaluarsa. Aku tidak dapat memprediksikan kapan hal itu dapat terjadi. Aku hanya selalu berusaha membuat rindu yang kubuat untuknya tidak terlalu membosankan untuk dinikmati.
Rindu nampaknya sudah bosan dan akan meninggalkan aku dan perempuan itu. Rindu sudah muak terhadap hubungan yang kujalin tanpa adanya kepastian dari kedua belah pihak. Buat apa kubahas rindu yang tak kunjung membuahkan hasil. Alhasil rindu dapat membunuh kami pelan-pelan tanpa belas kasih. Akhirnya aku menghentikan permainan rindu dengan ibu.
Central Java Never Die




544
